Menyambut “Hari” Natal
Tanpa terasa kita kembali berada di bulan Desember itu berarti sebentar lagi kita akan kembali merayakan natal bersama-sama. Rasa-rasanya masih belum hilang dari ingatan perayaan natal tahun lalu. Jujur saja hari-hari dalam hidup kita berlangsung begitu cepat. Anak-anak kita yang tadinya masih bayi tiba-tiba sudah besar, beberapa sudah jadi remaja sementara yang lain bahkan sudah hampir menikah. Mengalami semuanya ini seringkali secara tidak sadar kita berada dalam suatu bentuk kehidupan yang “bergulir” rutin. Berjalan dari satu hari ke hari yang berikut, minggu ke minggu yang berikut, bulan ke bulan yang berikut, tahun ke tahun yang berikut. Dan….sebentar lagi kita mengalami “natal yang berikutnya.” Keadaan ini bisa membuat kita terjebak untuk hanya sekedar “berada atau mengadakan” tanpa “mengalami” dan “mendalami” makna natal sesungguhnya.
Memang harus diakui sejujurnya, natal yang dirayakan tiap tanggal 25 Desember tidak datang dari Alkitab. Maksudnya Alkitab tidak menulis secara langsung tanggal kelahiran Yesus. Bahkan dari beberapa masukan tampaknya merayakan natal lebih terkesan “kafir” daripada rohani. Tetapi saya yakin apapun tanggapan orang terhadap natal, harus diakui bahwa Tuhan bisa “memakai” momen natal untuk menyatakan kasih, kuasa dan kemuliaannya. Bahkan negara tetangga Singapura yang mayoritas penduduknya beragama Budha memakai momen natal dengan sangat serius. Kalau mereka yang belum mengerti makna natal sesungguhnya ini bisa begitu serius, pertanyaannya bagaimana dengan kita.
Kita tahu bahwa bagi sebagian orang percaya (baca: kristen) natal identik dengan: pesta, baju baru, penampilan khusus, hura-hura, liburan, dan seterusnya; daftar ini bisa diperpanjang lagi. Bagaimana dengan kita? Menyambut natal sesungguhnya mengingatkan kita tentang pengharapan, penebusan, pemulihan, kasih, perubahan total, kemuliaan, dan seterusnya; daftar ini bisa ditambah sesuai dengan pengalaman masing-masing pribadi. Satu hal yang jelas dan paling penting “Mesias” yaitu “Raja di atas segala raja” dan “Tuhan di atas segala tuhan” datang di atas muka bumi ini. Itu berarti Dia berkenan datang dalam kehidupan kita secara pribadi.
Orang Majus sebagaimana ditulis dalam Matius 2:1,2 datang untuk memberikan persembahan dan penyembahan kepada Yesus. Yusuf dan Maria memberi hidup mereka untuk membawa Mesias kepada dunia. Elizabet, Simeon, dan para gembala menaikkan pujian dan penyembahan bagi Sang Raja. Saya percaya sikap-sikap yang seperti yang seharusnya ada dalam hidup kita. Mari kita merenungkan nilai-nilai ini lebih dalam lagi sementara kita berada dalam nuansa natal hari-hari ini. Bagaimana hubungan kita dengan Dia, adakah kehidupan kita “memuji dan menyembah” Dia senantiasa, dan yang terpenting apakah Yesus sungguh-sungguh menjadi Raja dalam hidup kita. Adakah raja-raja lain yang kita ijinkan bertahta dalam hidup kita? Renungkan baik-baik !!! KerajaanNya tidak dapat datang dan kehendakNya tidak akan jadi kalau Yesus belum menjadi Raja dalam seluruh aspek kehidupan kita. Welcome to Christmas season, Tuhan memberkati
Jumat, 01 Desember 2006
Perfect Trust
Percaya Sepenuhnya
Ada satu pertanyaan sederhana sekaligus penting dalam hidup kita. Khususnya pada masa-masa seperti saat ini, di mana terjadi begitu banyak pergumulan dan permasalahan dalam hidup ini. Pertanyaan itu adalah: “Dapatkah anda mempercayai Tuhan?” Saat di mana kita hari-hari ini sedang merayakan natal, pertanyaan di atas sekaligus merupakan refleksi bagi kita semua. Sebab natal berbicara tentang harapan, sukacita, rahmat, bahkan mujijat bagi kita semua. Dengan kata lain saat kita benar-benar percaya kepada Dia, maka perkara-perkara di atas pasti akan terjadi dalam kehidupan kita.
Salah satu pesan natal yang kuat seperti yang disampaikan dalam firman Tuhan adalah “jangan takut.” Dalam Injil Lukas 1:26-30, dimana Maria menerima salam dari malaikat Gabriel maka dia menjadi takut. Tetapi Gabriel yang menyampaikan pesan Tuhan berkata: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (ayat 30). Pesan yang sama datang kepada setiap kita yang memiliki kepercayaan secara total kepada Yesus, JANGAN TAKUT !!!
Anda mungkin berpikir “tidak semudah itu” karena apa yang sedang dihadapi begitu berat. Ayat 37 adalah merupakan jawaban, Alkitab berkata demikian: “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Buat Maria apa yang diperintahkan Allah kepada dirinya adalah sesuatu yang mustahil. Bahkan kalau hari ini kita sedang berhadapan dengan kemustahilan, masih ada harapan. Ingat natal berbicara tentang mujijat ! Bagi kita memang mustahil tapi bagi Dia tidak ada yang mustahil. Atau supaya bersifat lebih pribadi kita bisa berkata: bersama dengan Tuhan tidak ada yang mustahil” Haleluya !!!
Bukan hanya Maria yang mengalami rasa takut, ternyata Yusuf pun mengalami yang sama saat malaikat datang kepada dia. Injil Matius 1:18-20 mencatat bagaimana Yusuf yang begitu terkejut mendengar kehamilan Maria memutuskan untuk menceraikannya secara diam-diam. Yusuf merasa dia tidak perlu menanggung apa yang seharusnya tidak perlu dia tanggung. Yusuf punya masalah yang berat disini, tapi sekali lagi malaikat berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu,…” Alkitab berkata Yusuf “TAAT” mengerjakan apa yang Tuhan minta dia lakukan (ayat 24). Kita tahu bagaimana kemudian Yusuf punya peran dalam sejarah kekristenan. Kehidupannya memberi warna dalam karya keselamatan kekal yang merupakan kehendak Bapa di sorga.
Keduanya baik Yusuf maupun Maria, saya melihat mereka memiliki percaya total kepada Tuhan. Percaya yang mereka miliki bukan separo-separo bahkan tidak juga 99,9% tetapi percaya 100%. Minggu yang baru ini, menjelang tahun yang baru mari kita baharui percaya kita kepada Dia. Tidak perduli bagaimanapun keadaan kita, baik atau buruk, ada masalah atau tidak, berhadapan dengan kemustahilan atau tidak, tidak jadi masalah. Asalkan kita punya keyakinan penuh atas Dia. Yesus tidur di buritan perahu saat badai datang, mengapa? Karena Dia percaya sepenuhnya akan Bapa-Nya. Bagaimana dengan kita ?
Ada satu pertanyaan sederhana sekaligus penting dalam hidup kita. Khususnya pada masa-masa seperti saat ini, di mana terjadi begitu banyak pergumulan dan permasalahan dalam hidup ini. Pertanyaan itu adalah: “Dapatkah anda mempercayai Tuhan?” Saat di mana kita hari-hari ini sedang merayakan natal, pertanyaan di atas sekaligus merupakan refleksi bagi kita semua. Sebab natal berbicara tentang harapan, sukacita, rahmat, bahkan mujijat bagi kita semua. Dengan kata lain saat kita benar-benar percaya kepada Dia, maka perkara-perkara di atas pasti akan terjadi dalam kehidupan kita.
Salah satu pesan natal yang kuat seperti yang disampaikan dalam firman Tuhan adalah “jangan takut.” Dalam Injil Lukas 1:26-30, dimana Maria menerima salam dari malaikat Gabriel maka dia menjadi takut. Tetapi Gabriel yang menyampaikan pesan Tuhan berkata: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (ayat 30). Pesan yang sama datang kepada setiap kita yang memiliki kepercayaan secara total kepada Yesus, JANGAN TAKUT !!!
Anda mungkin berpikir “tidak semudah itu” karena apa yang sedang dihadapi begitu berat. Ayat 37 adalah merupakan jawaban, Alkitab berkata demikian: “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Buat Maria apa yang diperintahkan Allah kepada dirinya adalah sesuatu yang mustahil. Bahkan kalau hari ini kita sedang berhadapan dengan kemustahilan, masih ada harapan. Ingat natal berbicara tentang mujijat ! Bagi kita memang mustahil tapi bagi Dia tidak ada yang mustahil. Atau supaya bersifat lebih pribadi kita bisa berkata: bersama dengan Tuhan tidak ada yang mustahil” Haleluya !!!
Bukan hanya Maria yang mengalami rasa takut, ternyata Yusuf pun mengalami yang sama saat malaikat datang kepada dia. Injil Matius 1:18-20 mencatat bagaimana Yusuf yang begitu terkejut mendengar kehamilan Maria memutuskan untuk menceraikannya secara diam-diam. Yusuf merasa dia tidak perlu menanggung apa yang seharusnya tidak perlu dia tanggung. Yusuf punya masalah yang berat disini, tapi sekali lagi malaikat berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu,…” Alkitab berkata Yusuf “TAAT” mengerjakan apa yang Tuhan minta dia lakukan (ayat 24). Kita tahu bagaimana kemudian Yusuf punya peran dalam sejarah kekristenan. Kehidupannya memberi warna dalam karya keselamatan kekal yang merupakan kehendak Bapa di sorga.
Keduanya baik Yusuf maupun Maria, saya melihat mereka memiliki percaya total kepada Tuhan. Percaya yang mereka miliki bukan separo-separo bahkan tidak juga 99,9% tetapi percaya 100%. Minggu yang baru ini, menjelang tahun yang baru mari kita baharui percaya kita kepada Dia. Tidak perduli bagaimanapun keadaan kita, baik atau buruk, ada masalah atau tidak, berhadapan dengan kemustahilan atau tidak, tidak jadi masalah. Asalkan kita punya keyakinan penuh atas Dia. Yesus tidur di buritan perahu saat badai datang, mengapa? Karena Dia percaya sepenuhnya akan Bapa-Nya. Bagaimana dengan kita ?
Minggu, 01 Oktober 2006
Sukkot
Saat ini kita berada di tengah-tengah masa perayaan Sukkot (hari raya pondok daun), minggu-minggu sebelumnya kita sama-sama merayakan Rosh Hashanah (hari raya penipuan sangkakala) dan Yom Kippur (hari raya pendamaian). Ketiga perayaan ini punya hubungan yang sangat erat dan saling berhubungan dalam kalender nubuatan Allah. Rosh Hashanah berbicara tentang kedatangan mempelai pria Yesus untuk menjemput mempelai wanita yaitu gerejaNya. Yom Kippur adalah kedatangan Yesus di bukit zaitun di mana Dia akan menghancurkan semua yang mengepung dan mencoba membinasakan Yerusalem saat itu. Sukkot berbicara tentang millennial kingdom, yaitu kerajaan 1000 tahun menggenapi nubuat: “segala bangsa akan bertelut dan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan.”
Saya percaya bahwa hari-hari ini kita sedang menuju kearah penggenapan semuanya itu. Masalahnya ada banyak orang percaya yang punya mentalitas melarikan diri (escaping mentality), karena menyerah terhadap pergumulan yang diijinkan Tuhan terjadi dalam hidupnya. Kita harus melihat semuanya itu justru sebagai sumber pengharapan dalam kehidupan kita. Sukkot dirayakan sebenarnya untuk mengingat bagaimana Tuhan memelihara orang Israel selama mereka berada di padang gurun 40 tahun lamanya (Imamat 23:43). Mereka mengingat bagaimana tiang awan dan tiang api (Bilangan 14:14) menuntun mereka dalam perjalanan mereka di sana. Mereka juga mengingat bagaimana Tuhan menyediakan air yang keluar dari batu karang (gambaran Tuhan Yesus) di Meriba (Keluaran 17:1-7).
Peringatan ini setiap tahun dilaksanakan setiap bulan Tishri (bulan ke 7), mulai dari hari ke 15 sampai dengan hari ke 21/22. Dirayakan dengan sangat meriah dan setiap harinya sangkakala ditiup dengan sukacita. Sekali lagi semuanya ini mengingatkan kita bagaimana pemeliharaan Tuhan yang dasyat dan tidak berkesudahan dalam kehidupan kita. Lewat pengampunan oleh anugerahNya hidup kita diubahkan. Bukan hanya itu Roh Kudus juga diberikan untuk ada dalam hidup kita sehingga bukan hanya kita yang diubahkan tetapi setiap orang yang kita jumpai juga akan diubahkan. Yesus sendiri menubuatkan akan hal ini pada puncak perayaan Sukkot.
Dalam Yoh 7:37-39 Alkitab berkata: “Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.”
Sekarang kita mengalami semuanya itu, sesuatu yang hanya diimpikan oleh mereka yang hidup dalam era perjanjian lama. Sesuatu yang hanya sebagian orang tertentu yang terpilih yang dapat memilikinya. Tidak heran Petrus mengatakan bahwa kita adalah “generasi yang terpilih” (I Petrus 2:9). Hari ini mari kita melihat diri kita dari sudut pandang yang berbeda sembari mengingat apa yang Tuhan lakukan lewat perayaan pondok daun ini. Bayangkan Roh Raja di atas segala raja itu ada di dalam kita, rasa-rasanya tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa DNA rohani kita secara total berubah dan…itu juga akan mengubah DNA ‘jiwani dan jasmani’ kita. ”Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
Saya percaya bahwa hari-hari ini kita sedang menuju kearah penggenapan semuanya itu. Masalahnya ada banyak orang percaya yang punya mentalitas melarikan diri (escaping mentality), karena menyerah terhadap pergumulan yang diijinkan Tuhan terjadi dalam hidupnya. Kita harus melihat semuanya itu justru sebagai sumber pengharapan dalam kehidupan kita. Sukkot dirayakan sebenarnya untuk mengingat bagaimana Tuhan memelihara orang Israel selama mereka berada di padang gurun 40 tahun lamanya (Imamat 23:43). Mereka mengingat bagaimana tiang awan dan tiang api (Bilangan 14:14) menuntun mereka dalam perjalanan mereka di sana. Mereka juga mengingat bagaimana Tuhan menyediakan air yang keluar dari batu karang (gambaran Tuhan Yesus) di Meriba (Keluaran 17:1-7).
Peringatan ini setiap tahun dilaksanakan setiap bulan Tishri (bulan ke 7), mulai dari hari ke 15 sampai dengan hari ke 21/22. Dirayakan dengan sangat meriah dan setiap harinya sangkakala ditiup dengan sukacita. Sekali lagi semuanya ini mengingatkan kita bagaimana pemeliharaan Tuhan yang dasyat dan tidak berkesudahan dalam kehidupan kita. Lewat pengampunan oleh anugerahNya hidup kita diubahkan. Bukan hanya itu Roh Kudus juga diberikan untuk ada dalam hidup kita sehingga bukan hanya kita yang diubahkan tetapi setiap orang yang kita jumpai juga akan diubahkan. Yesus sendiri menubuatkan akan hal ini pada puncak perayaan Sukkot.
Dalam Yoh 7:37-39 Alkitab berkata: “Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.”
Sekarang kita mengalami semuanya itu, sesuatu yang hanya diimpikan oleh mereka yang hidup dalam era perjanjian lama. Sesuatu yang hanya sebagian orang tertentu yang terpilih yang dapat memilikinya. Tidak heran Petrus mengatakan bahwa kita adalah “generasi yang terpilih” (I Petrus 2:9). Hari ini mari kita melihat diri kita dari sudut pandang yang berbeda sembari mengingat apa yang Tuhan lakukan lewat perayaan pondok daun ini. Bayangkan Roh Raja di atas segala raja itu ada di dalam kita, rasa-rasanya tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa DNA rohani kita secara total berubah dan…itu juga akan mengubah DNA ‘jiwani dan jasmani’ kita. ”Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
Jumat, 01 September 2006
Yom Kippur
Dalam kitab Imamat 23:26-28 ditulis firman Tuhan: “Tuhan berfirman kepada Musa: “Akan tetapi pada tanggal sepuluh bulan yang ketujuh itu ada hari Pendamaian; kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan harus merendahkan diri dengan berpuasa dan mempersembahkan kurban api-apian kepada TUHAN. Pada hari itu janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah hari Pendamaian untuk mengadakan pendamaian bagimu di hadapan TUHAN, Allahmu.”
Beberapa waktu yang lalu kita merayakan Rosh Hashanah, yang merupakan tahun baru orang Yahudi sekaligus merupakan waktu introspeksi diri secara mendalam. Hari ini kita merayakan Yom Kippur, yang merupakan hari pendamaian. Tentu saja bagi kita yang percaya kepada korban Kristus, pendamaian dikerjakan lewat korbannya di atas Kalvari. Tetapi bagi orang Yahudi Yom Kippur berarti mereka harus memikirkan fakta dosa dan dosa memisahkan mereka dari Allah.
Kata pendamaian itu berarti melingkupi, dari bahasa Ibrani yang sama yang digunakan untuk menggambarkan tindakan Nuh ketika ia melapisi bahtera dengan ter, baik di sebelah dalam maupun di sebelah luarnya. Seperti Nuh dibebaskan dari “air bah penghakiman,” demikian juga “Hari Pendamaian” menjadi agen yang menyelamatkan dan membungkus kita dari dosa-dosa kita. Imamat 16:15,16 mengatakan: “Lalu ia harus menyembelih domba jantan yang akan menjadi kurban penghapus dosa bagi bangsa itu dan membawa darahnya masuk ke belakang tabir, kemudian haruslah diperbuatnya dengan darah lembu jantan, yakni ia harus memercikannya ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu. Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka.
Ada dua kambing yang digunakan sebagai korban, ‘azalel’ kambing penyebab kesalahan dan kambing yang dibuang untuk membawa dosa-dosa umat menjauh. Kedua kambing itu menjadi korban bagi dosa-dosa umat. Sama seperti korban binatang tersebut, yang menutupi (pengampunan) dosa Yesus melakukannya juga bagi kita. Hanya kalau darah binatang tersebut menutupi dosa, maka Darah Yesus menghapuskan segala dosa kita (Ibrani 9:12).
Pada hari Yom Kippur juga Imam Besar akan masuk ke dalam ruang Maha Kudus dengan membawa darah korban bagi pengampunan dosa. Yesus yang adalah Imam Besar kita melakukan yang sama, Dia masuk ke ruang Maha Kudus menjadi perantara bagi kita dengan membawa DarahNya sendiri (Ibrani 9:11-14, 24, 28). Hari ini untuk kesekian kalinya kita merenungkan makna korban Kristus bagi kita dan pertobatan sejati dari pihak kita. Pertobatan lewat percaya dan mengaku akan Yesus memang kita lakukan satu kali, tetapi dalam perjalanan hidup sebagai orang percaya kita harus memiliki sikap bertobat karena tidak ada seorangpun yang sempurna. Mari hari-hari mendatang ini kita lebih lagi memeriksa dengan seksama hidup kita, apakah kita senantiasa berkenan kepadanya.
Beberapa waktu yang lalu kita merayakan Rosh Hashanah, yang merupakan tahun baru orang Yahudi sekaligus merupakan waktu introspeksi diri secara mendalam. Hari ini kita merayakan Yom Kippur, yang merupakan hari pendamaian. Tentu saja bagi kita yang percaya kepada korban Kristus, pendamaian dikerjakan lewat korbannya di atas Kalvari. Tetapi bagi orang Yahudi Yom Kippur berarti mereka harus memikirkan fakta dosa dan dosa memisahkan mereka dari Allah.
Kata pendamaian itu berarti melingkupi, dari bahasa Ibrani yang sama yang digunakan untuk menggambarkan tindakan Nuh ketika ia melapisi bahtera dengan ter, baik di sebelah dalam maupun di sebelah luarnya. Seperti Nuh dibebaskan dari “air bah penghakiman,” demikian juga “Hari Pendamaian” menjadi agen yang menyelamatkan dan membungkus kita dari dosa-dosa kita. Imamat 16:15,16 mengatakan: “Lalu ia harus menyembelih domba jantan yang akan menjadi kurban penghapus dosa bagi bangsa itu dan membawa darahnya masuk ke belakang tabir, kemudian haruslah diperbuatnya dengan darah lembu jantan, yakni ia harus memercikannya ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu. Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka.
Ada dua kambing yang digunakan sebagai korban, ‘azalel’ kambing penyebab kesalahan dan kambing yang dibuang untuk membawa dosa-dosa umat menjauh. Kedua kambing itu menjadi korban bagi dosa-dosa umat. Sama seperti korban binatang tersebut, yang menutupi (pengampunan) dosa Yesus melakukannya juga bagi kita. Hanya kalau darah binatang tersebut menutupi dosa, maka Darah Yesus menghapuskan segala dosa kita (Ibrani 9:12).
Pada hari Yom Kippur juga Imam Besar akan masuk ke dalam ruang Maha Kudus dengan membawa darah korban bagi pengampunan dosa. Yesus yang adalah Imam Besar kita melakukan yang sama, Dia masuk ke ruang Maha Kudus menjadi perantara bagi kita dengan membawa DarahNya sendiri (Ibrani 9:11-14, 24, 28). Hari ini untuk kesekian kalinya kita merenungkan makna korban Kristus bagi kita dan pertobatan sejati dari pihak kita. Pertobatan lewat percaya dan mengaku akan Yesus memang kita lakukan satu kali, tetapi dalam perjalanan hidup sebagai orang percaya kita harus memiliki sikap bertobat karena tidak ada seorangpun yang sempurna. Mari hari-hari mendatang ini kita lebih lagi memeriksa dengan seksama hidup kita, apakah kita senantiasa berkenan kepadanya.
Rosh Hashanah
Hari ini kita bersama-sama memperingati perayaan Rosh Hashanah, yang dalam penanggalan Yahudi dilakukan pada hari pertama pada bulan ketujuh (Tishri). Hari raya Rosh Hashanah ini lebih populer disebut dengan hari raya penipuan sangkakala. Dalam kitab Imamat 23:23-25 dikatakan: “Tuhan berfirman kepada Musa: “Katakanlah kepada orang Israel, begini: ‘Dalam bulan yang ketujuh, pada tanggal satu bulan itu, kamu harus mengadakan hari perhentian penuh yang diperingati dengan meniup sangkakala, yakni hari pertemuan kudus. Janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat dan kamu harus mempersembahkan kurban api-apian kepada TUHAN’ “
Ada tiga hal secara garis besar yang biasanya dilakukan pada saat umat Tuhan merayakan hari raya ini. (1) Doa & pembacaan Firman Tuhan, (2) Introspeksi diri & pertobatan serta memberikan persembahan untuk mereka yang memerlukan, dan (3) Meniup shofar (sangkakala yang terbuat dari tanduk domba jantan yang melengkung). Indikasi yang terpenting dari semuanya ini adalah berbicara tentang “kesiapan kita menyambut kedatangan mempelai pria” yaitu Yesus Kristus Tuhan. Pertanyaan yang patut direnungkan kita semua: bagaimana hidup kita dan keadaan kita saat ini? Sebab Dia datang pada saat yang tidak terduga. So prepare yourself carefully & Happy Rosh Hashanah. God Bless You
Ada tiga hal secara garis besar yang biasanya dilakukan pada saat umat Tuhan merayakan hari raya ini. (1) Doa & pembacaan Firman Tuhan, (2) Introspeksi diri & pertobatan serta memberikan persembahan untuk mereka yang memerlukan, dan (3) Meniup shofar (sangkakala yang terbuat dari tanduk domba jantan yang melengkung). Indikasi yang terpenting dari semuanya ini adalah berbicara tentang “kesiapan kita menyambut kedatangan mempelai pria” yaitu Yesus Kristus Tuhan. Pertanyaan yang patut direnungkan kita semua: bagaimana hidup kita dan keadaan kita saat ini? Sebab Dia datang pada saat yang tidak terduga. So prepare yourself carefully & Happy Rosh Hashanah. God Bless You
Sabtu, 01 Juli 2006
Sikap
Ada satu ungkapan yang sangat populer dan cukup sering kita dengar: attitude determine altitude (sikap menentukan “ketinggian”). Ungkapan itu benar sekali, sikap kita akan sangat menentukan sampai batas mana kita mengalami kemajuan dan pertumbuhan dalam hidup kita. Sikap membuat penolakan berbalik menjadi penerimaan. Sikap juga membuat penerimaan berbalik menjadi penolakan. Kehidupan kita dengan kata lain dapat turun atau naik tergantung dengan sikap kita.
Firman Tuhan dalam kitab Mazmur 15 berkata: “Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak melimpahkan cela kepada tetangganya;yang memandang hina orang yang tersingkir/jahat, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.
Kurang lebih ada sepuluh kualitas sikap yang saya percaya akan sangat menentukan “keberadaan” kita. Perhatikan bagaimana Daud memulai nyanyian di atas dengan sebuah pertanyaan yang sangat penting: siapakah yang boleh menumpang kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Daud sedang menanyakan sesuatu yang merupakan inti dari sebuah kehidupan yang terkait langsung dengan Tuhan sendiri. Sebuah persekutuan yang erat dengan Dia sendiri dan yang menjadi jaminan kehidupan yang fulfilled (baca: berhasil dalam berbagai aspek). Siapa yang dapat menjamin kita memiliki hidup yang demikian selain daripada Tuhan sendiri. Tidak heran kalau kemudian Daud menutup mazmur ini dengan jaminan akan sebuah kehidupan yang kokoh – tidak tergoyahkan oleh apapun.
Memasuki minggu yang baru ini, sekali lagi mari kita renungkan bersama-sama kualitas sikap yang ada di atas. Saya berdoa setiap kita mengambil waktu untuk paling tidak selama seminggu ke depan ini merenungkan masing-masing kualitas yang ada. Lalu kemudian bersikap jujur untuk mau mengakui pada area mana dari sikap kita yang perlu diperbaiki bahkan diubah. Selanjutnya kita bertobat dan mulai hidup dengan sikap yang baru dan buktikan sendiri bagaimana kualitas hidup kita akan mengalami peningkatan. Mengubah kualitas sikap akan berakibat pada perubahan kualitas hidup.
Anda naik atau turun, berhasil atau gagal, disukai atau tidak, diterima atau ditolak, dicari atau dihindari, dan seterusnya. Daftar ini bisa diperpanjang sesuai dengan keadaan anda masing-masing, sangat tergantung kepada sikap kita. Mari sekali lagi hari yang baru dan minggu yang baru ini kita ubah sikap kita dan kita tingkatkan kualitas hidup kita. Ingat baik-baik, your attitude determine your altitude. Berhentilah menyalahkan Tuhan karena hidup yang mungkin tidak mengalami perubahan. Kebanyakan masalahnya terletak pada diri kita sendiri: sikap anda terhadap Tuhan, rekan kerja, teman, keluarga, sahabat, atasan, pemimpin, dan sebagainya. Sekali lagi saya berdoa hidup anda naik dan bukan turun, anda adalah orang yang ada di kemah Tuhan dan gunungNya yang kudus – suatu kehidupan yang kokoh dan tidak akan goyah sampai selama-lamanya, AMIN.
Firman Tuhan dalam kitab Mazmur 15 berkata: “Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak melimpahkan cela kepada tetangganya;yang memandang hina orang yang tersingkir/jahat, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.
Kurang lebih ada sepuluh kualitas sikap yang saya percaya akan sangat menentukan “keberadaan” kita. Perhatikan bagaimana Daud memulai nyanyian di atas dengan sebuah pertanyaan yang sangat penting: siapakah yang boleh menumpang kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Daud sedang menanyakan sesuatu yang merupakan inti dari sebuah kehidupan yang terkait langsung dengan Tuhan sendiri. Sebuah persekutuan yang erat dengan Dia sendiri dan yang menjadi jaminan kehidupan yang fulfilled (baca: berhasil dalam berbagai aspek). Siapa yang dapat menjamin kita memiliki hidup yang demikian selain daripada Tuhan sendiri. Tidak heran kalau kemudian Daud menutup mazmur ini dengan jaminan akan sebuah kehidupan yang kokoh – tidak tergoyahkan oleh apapun.
Memasuki minggu yang baru ini, sekali lagi mari kita renungkan bersama-sama kualitas sikap yang ada di atas. Saya berdoa setiap kita mengambil waktu untuk paling tidak selama seminggu ke depan ini merenungkan masing-masing kualitas yang ada. Lalu kemudian bersikap jujur untuk mau mengakui pada area mana dari sikap kita yang perlu diperbaiki bahkan diubah. Selanjutnya kita bertobat dan mulai hidup dengan sikap yang baru dan buktikan sendiri bagaimana kualitas hidup kita akan mengalami peningkatan. Mengubah kualitas sikap akan berakibat pada perubahan kualitas hidup.
Anda naik atau turun, berhasil atau gagal, disukai atau tidak, diterima atau ditolak, dicari atau dihindari, dan seterusnya. Daftar ini bisa diperpanjang sesuai dengan keadaan anda masing-masing, sangat tergantung kepada sikap kita. Mari sekali lagi hari yang baru dan minggu yang baru ini kita ubah sikap kita dan kita tingkatkan kualitas hidup kita. Ingat baik-baik, your attitude determine your altitude. Berhentilah menyalahkan Tuhan karena hidup yang mungkin tidak mengalami perubahan. Kebanyakan masalahnya terletak pada diri kita sendiri: sikap anda terhadap Tuhan, rekan kerja, teman, keluarga, sahabat, atasan, pemimpin, dan sebagainya. Sekali lagi saya berdoa hidup anda naik dan bukan turun, anda adalah orang yang ada di kemah Tuhan dan gunungNya yang kudus – suatu kehidupan yang kokoh dan tidak akan goyah sampai selama-lamanya, AMIN.
Emotional Quotient
Selama puluhan tahun ada banyak orang meyakini bahwa kecerdasan adalah ukuran keberhasilan bagi seseorang. Itu sebabnya mulai dari usia anak-anak sampai usia dewasa, semuanya mengalami apa yang disebut dengan tes kecerdasan atau Intelegence Quotient. Mulai dari masuk sekolah, melamar pekerjaan, tes masuk angkatan bersenjata, memperpanjang SIM, dan sebagainya harus melewati tes IQ. Peserta wajib memenuhi standar tertentu sebelum dapat dianggap layak untuk diterima. Pemikiran yang mendasari hal ini adalah seseorang yang “pandai” pasti akan berhasil dikemudian hari. Sejujurnya sampai dengan saat inipun ada banyak dari kita yang setuju dengan pendapat di atas.
Sebenarnya hal ini tidak salah hanya karena penekanan yang lebih terhadap syarat kecerdasan tertentu, kita melupakan hal-hal lain dalam hidup kita yang mungkin jauh lebih berperan terhadap keberhasilan hidup. Hampir setiap orang tua menginginkan anak-anaknya memperoleh nilai-nilai tinggi dalam sekolah. Sekali lagi ini penting sekali tetapi kenyataannya anak yang pandai sekolah tidak menjamin keberhasilan nantinya di dunia kerja. Masalahnya ternyata terletak pada kemampuan beradaptasi dan penyesuaian diri serta kemampuan dalam membangun hubungan dengan sesama.
Pada pertengahan tahun 90an kita mulai mendengar istilah EQ yang makin lama makin popular sampai saat ini. Dunia sepertinya tercelik dan mendapat jawaban tentang kesenjangan antara IQ dan keberhasilan seseorang di dunia nyata. Ternyata bahwa dibutuhkan lebih dari sekedar pandai untuk kita bisa berhasil. Kalau boleh diambil kesimpulan ternyata “karakter dan integritas” seseorang berperan jauh lebih penting dari pada hanya sekedar pandai. Saya sering mendengar tentang anak Tuhan yang pandai (baca: lihai) “mempermainkan” orang lain. Mereka bukannya menjadi berkat karena kepandaian, sebaliknya seringkali menimbulkan masalah bagi orang lain.
Saya percaya Yesus adalah pribadi yang punya IQ sangat tinggi. Lihat saja pengajaran-pengajaran dan yang lebih penting perbuatan-perbuatan yang Dia lakukan selama 33,5 tahun di bumi ini. Yesus uniknya bukan seorang yang gampang berkompromi, Dia sangat tegas dan punya sikap yang benar. Sekalipun demikian Alkitab mencatat keberhasilanNya dalam berhadapan dengan orang banyak. Markus 3:7,8 berkata: “Kemudian Yesus dengan murid-muridNya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikutiNya. Juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepadaNya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukanNya.”
Kalau mau diaplikasikan dalam dunia nyata, boleh dikatakan Yesus adalah seorang yang sukses dalam apapun yang dikerjakanNya. Bagaimana dengan kita? Saya mengerti kita sedang menghadapi masa-masa yang sulit. “Sekarang semua serba susah pak!!!” Seorang jemaat bicara dengan saya, apa kita kurang berdoa? Atau kurang rajin ibadah? Atau perlu urapan lebih? Dan sebagainya. Saya percaya itu semua sangat baik dan perlu, tapi jangan-jangan saking rohaninya kita lupa hal-hal yang sifatnya praktis. Bagaimana pendekatan kita dengan langganan? Gimana cara kita memperlakukan mereka? Bagaimana kita memandang mereka? Termasuk apa pendapat kita tentang diri kita sendiri? Positi atau negatif? Semua ini, anda yang tahu jawabannya.
Saya berdoa dan tetap percaya Tuhan tidak merencanakan kegagalan, kalaupun gagal itu hanya keberhasilan yang tertunda. Mari kita yakini ini sungguh-sungguh, plus kita jaga sikap kita. Mari minggu yang baru ini, kita lebih optimis – positif – berintegritas – berkarakter – dsb, tingkatkan skor EQ anda bersama Tuhan. Saya percaya kita akan menuai lebih, lebih dan lebih lagi sebab kita akan jadi lebih berhikmat, menyenangkan, tapi tidak gampangan apalagi terlibat dosa. Maju terus pantang mundur, lupakan minggu yang sudah lalu lihat ke depan dengan keyakinan yang lebih. Tuhan memberkati !!!!
Sebenarnya hal ini tidak salah hanya karena penekanan yang lebih terhadap syarat kecerdasan tertentu, kita melupakan hal-hal lain dalam hidup kita yang mungkin jauh lebih berperan terhadap keberhasilan hidup. Hampir setiap orang tua menginginkan anak-anaknya memperoleh nilai-nilai tinggi dalam sekolah. Sekali lagi ini penting sekali tetapi kenyataannya anak yang pandai sekolah tidak menjamin keberhasilan nantinya di dunia kerja. Masalahnya ternyata terletak pada kemampuan beradaptasi dan penyesuaian diri serta kemampuan dalam membangun hubungan dengan sesama.
Pada pertengahan tahun 90an kita mulai mendengar istilah EQ yang makin lama makin popular sampai saat ini. Dunia sepertinya tercelik dan mendapat jawaban tentang kesenjangan antara IQ dan keberhasilan seseorang di dunia nyata. Ternyata bahwa dibutuhkan lebih dari sekedar pandai untuk kita bisa berhasil. Kalau boleh diambil kesimpulan ternyata “karakter dan integritas” seseorang berperan jauh lebih penting dari pada hanya sekedar pandai. Saya sering mendengar tentang anak Tuhan yang pandai (baca: lihai) “mempermainkan” orang lain. Mereka bukannya menjadi berkat karena kepandaian, sebaliknya seringkali menimbulkan masalah bagi orang lain.
Saya percaya Yesus adalah pribadi yang punya IQ sangat tinggi. Lihat saja pengajaran-pengajaran dan yang lebih penting perbuatan-perbuatan yang Dia lakukan selama 33,5 tahun di bumi ini. Yesus uniknya bukan seorang yang gampang berkompromi, Dia sangat tegas dan punya sikap yang benar. Sekalipun demikian Alkitab mencatat keberhasilanNya dalam berhadapan dengan orang banyak. Markus 3:7,8 berkata: “Kemudian Yesus dengan murid-muridNya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikutiNya. Juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepadaNya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukanNya.”
Kalau mau diaplikasikan dalam dunia nyata, boleh dikatakan Yesus adalah seorang yang sukses dalam apapun yang dikerjakanNya. Bagaimana dengan kita? Saya mengerti kita sedang menghadapi masa-masa yang sulit. “Sekarang semua serba susah pak!!!” Seorang jemaat bicara dengan saya, apa kita kurang berdoa? Atau kurang rajin ibadah? Atau perlu urapan lebih? Dan sebagainya. Saya percaya itu semua sangat baik dan perlu, tapi jangan-jangan saking rohaninya kita lupa hal-hal yang sifatnya praktis. Bagaimana pendekatan kita dengan langganan? Gimana cara kita memperlakukan mereka? Bagaimana kita memandang mereka? Termasuk apa pendapat kita tentang diri kita sendiri? Positi atau negatif? Semua ini, anda yang tahu jawabannya.
Saya berdoa dan tetap percaya Tuhan tidak merencanakan kegagalan, kalaupun gagal itu hanya keberhasilan yang tertunda. Mari kita yakini ini sungguh-sungguh, plus kita jaga sikap kita. Mari minggu yang baru ini, kita lebih optimis – positif – berintegritas – berkarakter – dsb, tingkatkan skor EQ anda bersama Tuhan. Saya percaya kita akan menuai lebih, lebih dan lebih lagi sebab kita akan jadi lebih berhikmat, menyenangkan, tapi tidak gampangan apalagi terlibat dosa. Maju terus pantang mundur, lupakan minggu yang sudah lalu lihat ke depan dengan keyakinan yang lebih. Tuhan memberkati !!!!
Langganan:
Postingan (Atom)