Minggu pagi kita keluar rumah (naik apa aja), tetangga kita nanya: “pak/bu mau kemana pagi-pagi?” Jawabannya udah jelas dan pasti: “mau ke gereja.” Selama berabad-abad banyak orang yang mengaku percaya tidak benar-benar mengerti apakah Gereja itu sesungguhnya? Beberapa orang berpikir gereja adalah gedung ibadah, yang lain menyangka bahwa gereja adalah organisasi, sementara yang lain lagi berpendapat bahwa Gereja adalah suatu komunitas , dan sebagainya.
Tentu saja sangat penting untuk kita mengerti apakah Gereja itu sesungguhnya dan untuk apa Gereja ada? Dari segi bahasa kata gereja diambil dari istilah “Ekklesia.” Beberapa ayat di Alkitab menuliskan tentang istilah ini, salah satunya yang paling jelas adalah pada waktu Yesus sendiri menyebutnya dalam Injil Matius 16:18-19, “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”
Kata jemaat di atas diterjemahkan sebagai Ekklesia, secara umum artinya: “Ek (keluar) dan Kaleo (dipanggil)” – yang dipanggil keluar. Pengertian yang lain tentang Ekklesia adalah “Dewan kota” yang terdiri dari orang-orang yang dipilih untuk mewakili kota tersebut di dalam mengambil keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan kota tersebut. Pertama-tama, Gereja adalah sesuatu yang unik (yang dipanggil keluar) – Gereja juga dibangun di atas dasar yang teguh yaitu Tuhan Yesus sendiri. Gereja yang berikutnya, memiliki janji khusus di mana alam maut tidak berkuasa atasnya.
Dan yang lebih penting lagi, kepada Gereja diberikan kunci (dalam terjemahan bhs Inggris: kunci-kunci) Kerajaan Sorga. Gereja memiliki kuasa untuk mengikat dan melepaskan. Tidak heran Gereja sangat berperan untuk menentukan “nasib” suatu kota atau suatu teritori dimana Gereja tersebut berada. Itu berarti Gereja punya akses dan satu-satunya yang mampu untuk menyatakan KerajaanNya di muka bumi ini. Itu sebabnya juga Yesus memulai pelayananNya dengan pernyataan: “bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat (baca: sudah datang). Ada suatu kaitan erat antara keberadaan Gereja dan Kerajaan Allah.
Saya berdoa supaya hal-hal di atas menjadi milik dan bagian utama dalam kehidupan kita sebagai GerejaNya. Saya berdoa apa yang menjadi doa Yesus terjadi, “datanglah KerajaanMu dan jadilah kehendakMu dibumi seperti disorga.” Masukkan ini ke dalam roh saudara Gereja adalah satu-satunya “alat Tuhan” didunia ini untuk menghadirkan KerajaanNya secara nyata. Dua tahun sudah berlalu, dan saya percaya pada tahun-tahun berikut ROCK sebagai Gereja yang menyatakan KerajaanNya hidup sungguh-sungguh dalam kebenaranNya dan berdampak bagi pribadi-pribadi, keluarga-keluarga, lingkungan, kota, bangsa ini bahkan bangsa-bangsa lain di dunia ini.
“ … Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.
Lukas 4:16-19 berbicara mengenai salah satu tujuan utama kedatangan Yesus dimuka bumi, yaitu untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta, membebaskan orang tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.
Yesus datang dan melakukan hal-hal di atas untuk menolong dunia yang ‘tidak mampu’ menolong dirinya sendiri akibat dosa. Upah dosa adalah kutuk (Kejadian 3:14-19) dan maut (Roma 6:23). Dosa membuat manusia kehilangan kerajaanNya. Yesus datang untuk memulihkan dan mengembalikan semuanya.
Sebagaimana Yesus mengerjakan pemulihan dan menyatakan KerajaanNya, kita juga harus melakukan yang sama, Lukas 4: 16-19 mengajarkan:
1. Bergantung pada Roh Kudus (Roh Tuhan Allah ada pada-Ku)
2. Menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin
Hari-hari ini begitu banyak orang yang miskin secara materi dan juga miskin secara rohani. Banyak sekali orang-orang yang kaya secara materi akan tetapi sangat miskin secara rohani. Tugas kita adalah melayani mereka, baik yang miskin jasmani maupun yang miskin rohani, dengan memberitakan kabar baik.
3. Memberitakan pembebasan bagi yang tertawan.
Baik tertawan di dalam penjara maupun tertawan oleh dosa (narkoba, pornografi, uang, dll)
4. Memberitakan penglihatan bagi orang-orang yang buta (rohani)
Ketika manusia jatuh di dalam dosa, maka ada suatu selubung yang menutupi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat melihat berkat, pintu-pintu terbuka dan kesempatan-kesempatan yang Tuhan berikan bagi mereka. Kita harus memberitakan penglihatan bagi mereka atau dengan kata lain kita harus memberikan dukungan dan tuntunan kepada mereka untuk dapat melihat sinar kemuliaan Tuhan.
5. Membebaskan orang-orang yang tertindas
Dunia semakin sulit dan semakin kejam, begitu banyak orang yang tertindas dan teraniaya. Kita harus memberikan harapan kepada mereka dan menyatakan KerajaanNya melalui pengorbanan kita untuk membebaskan mereka.
6. Memberitakan tahun Rahmat Tuhan telah datang
Memberikan pengharapan dan kekuatan bagi mereka, bahwa waktu (buat mereka) Tuhan telah tiba. Waktu dimana mereka hiduo tidak dibawah kutuk tetapi di bawah rahmat (favor) yang daripada Tuhan.
Minggu ini mari lebih lagi kita berikan hidup untuk menyatakan “Kuasa Kerajaan-Nya”, sebab seluruh mahluk rindu menantikan saat anak-anak (putra-putra & putri-putri) Allah dinyatakan.
Kamis, 01 Maret 2007
Going Public With Your faith
Menyatakan Iman Percaya Dalam Kehidupan Sehari-Hari
I Tim 4:11-16
Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu. Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar. Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.
Kita adalah duta-duta besar kerajaan sorga di bumi dan kita perlu menyatakan ‘’iman percaya’’ sebagai duta besar kerajaan sorga kepada orang lain. Ini dapat terlihat dari sikap hidup kita sehari-hari terhadap orang lain. Sikap seorang duta besar harus sesuai dengan nilai-nilai kerajaan atau negara yang diwalikinya. Begitu pula dengan sikap kita sebagai duta besar kerajaan sorga. Nilai-nilai kerajaan kita dapatkan lewat ayat-ayat firman Tuhan yang ada dalam Alkitab. Salah satunya terdapat dalam I Tim 4:11-16 yang menulis tentang bagaimana seharusnya karakter kerajaan tercermin dalam iman percaya kita sehari-harinya. Mari kita memeriksa sudahkah iman percaya sebagai duta besar kerajaan sorga terlihat dalam hidup kita melalui hal-hal berikut:
1. Teladan Hidup Kita (I Tim 4:11-12)
Apakah hidup kita sudah menjadi teladan dan contoh yang baik bagi orang lain? Bagaimana kebiasaan berbicara kita kepada orang lain? Sudahkan orang lain melihat sikap iman kita ketika menghadapi masalah? Apakah motivasi kita dalam bertindak benar-benar murni? Hidup kita sepenuhnya harus menjadi teladan. Kita harus mengucapkan perkataan yang membangun dan tetap tenang dalam iman ketika menghadapi masalah. Selain itu, dalam bertindak kita harus memiliki motivasi kasih terhadap orang lain, bukan pada keuntungan pribadi.
2. Peta Perjalanan Hidup Kita (I Tim 4:13)
Bagaimana arah hidup kita selama ini? Sudahkah kita memakai firman Tuhan sebagai peta pedoman perjalanan hidup yang kita lalui? Kita harus bertekun membaca firman Tuhan karena itu adalah ‘peta kehidupan’ yang mengarahkan kita pada rencana Tuhan. Dengan bertekun dalam firman dan memperkatakannya ketika menghadapi masalah, firman itu yang akan menjadi ‘senjata ampuh’ untuk mengalahkan permasalahan kita dan membawa kita pada tujuan Allah.
3. Pelayanan Kita (I Tim 4:14)
Sudahkah kita mengaktifkan karunia-karunia rohani yang telah Tuhan percayakan? Karunia rohani adalah anugerah Tuhan setelah kita lahir baru (lahir secara rohani). Bedanya dengan bakat yaitu bakat didapat waktu kita lahir secara jasmani. Ada berbagai bentuk karunia rohani (I Kor 12:4-11) dan sudah saatnya kita melatih dan menggunakannya (1 Kor 14:1-2). Janganlah pernah menyia-nyiakan karunia rohani yang ada dalam kita, akan tetapi kita wajib melatihnya untuk membangun diri kita dan selanjutnya menjadi berkat bagi orang lain.
4. Kemajuan Hidup Kita (I Tim 4:15-16)
Sudahkan kemajuan hidup kita nyata kepada semua orang? Melalui komitmen kita merenungkan firman Tuhan dan penerapannya, maka hidup kita akan berhasil dan beruntung (Yos 1:8). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan ‘prosperous’ dan ‘good success’ (Yos 1:8). Dengan bertekun, kita tidak hanya mengalami kemajuan dalam hidup kita. Kita bahkan menjadi berkat bagi orang lain yang mendengarkan kita (I Tim 4:15-16).
Marilah dalam minggu yang baru ini, dengan rendah hati kita menerima didikan dan pengajaran firman Tuhan dan mau diubahkan untuk serupa dengan karakter seorang duta besar kerajaan sorga melalui kehidupan nyata sehari-hari. Saya percaya pada saat kebenaran ini diaplikasikan / diterapkan secara nyata, maka bukan hanya hidup kita mengalami perubahan, tetapi hidup orang lain juga akan diubahkan. Pada saat yang sama, kita menyatakan “iman percaya”, saat itu juga Anda berfungsi sebagai duta besar kerajaanNya. Tuhan Yesus memberkati.
I Tim 4:11-16
Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu. Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar. Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.
Kita adalah duta-duta besar kerajaan sorga di bumi dan kita perlu menyatakan ‘’iman percaya’’ sebagai duta besar kerajaan sorga kepada orang lain. Ini dapat terlihat dari sikap hidup kita sehari-hari terhadap orang lain. Sikap seorang duta besar harus sesuai dengan nilai-nilai kerajaan atau negara yang diwalikinya. Begitu pula dengan sikap kita sebagai duta besar kerajaan sorga. Nilai-nilai kerajaan kita dapatkan lewat ayat-ayat firman Tuhan yang ada dalam Alkitab. Salah satunya terdapat dalam I Tim 4:11-16 yang menulis tentang bagaimana seharusnya karakter kerajaan tercermin dalam iman percaya kita sehari-harinya. Mari kita memeriksa sudahkah iman percaya sebagai duta besar kerajaan sorga terlihat dalam hidup kita melalui hal-hal berikut:
1. Teladan Hidup Kita (I Tim 4:11-12)
Apakah hidup kita sudah menjadi teladan dan contoh yang baik bagi orang lain? Bagaimana kebiasaan berbicara kita kepada orang lain? Sudahkan orang lain melihat sikap iman kita ketika menghadapi masalah? Apakah motivasi kita dalam bertindak benar-benar murni? Hidup kita sepenuhnya harus menjadi teladan. Kita harus mengucapkan perkataan yang membangun dan tetap tenang dalam iman ketika menghadapi masalah. Selain itu, dalam bertindak kita harus memiliki motivasi kasih terhadap orang lain, bukan pada keuntungan pribadi.
2. Peta Perjalanan Hidup Kita (I Tim 4:13)
Bagaimana arah hidup kita selama ini? Sudahkah kita memakai firman Tuhan sebagai peta pedoman perjalanan hidup yang kita lalui? Kita harus bertekun membaca firman Tuhan karena itu adalah ‘peta kehidupan’ yang mengarahkan kita pada rencana Tuhan. Dengan bertekun dalam firman dan memperkatakannya ketika menghadapi masalah, firman itu yang akan menjadi ‘senjata ampuh’ untuk mengalahkan permasalahan kita dan membawa kita pada tujuan Allah.
3. Pelayanan Kita (I Tim 4:14)
Sudahkah kita mengaktifkan karunia-karunia rohani yang telah Tuhan percayakan? Karunia rohani adalah anugerah Tuhan setelah kita lahir baru (lahir secara rohani). Bedanya dengan bakat yaitu bakat didapat waktu kita lahir secara jasmani. Ada berbagai bentuk karunia rohani (I Kor 12:4-11) dan sudah saatnya kita melatih dan menggunakannya (1 Kor 14:1-2). Janganlah pernah menyia-nyiakan karunia rohani yang ada dalam kita, akan tetapi kita wajib melatihnya untuk membangun diri kita dan selanjutnya menjadi berkat bagi orang lain.
4. Kemajuan Hidup Kita (I Tim 4:15-16)
Sudahkan kemajuan hidup kita nyata kepada semua orang? Melalui komitmen kita merenungkan firman Tuhan dan penerapannya, maka hidup kita akan berhasil dan beruntung (Yos 1:8). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan ‘prosperous’ dan ‘good success’ (Yos 1:8). Dengan bertekun, kita tidak hanya mengalami kemajuan dalam hidup kita. Kita bahkan menjadi berkat bagi orang lain yang mendengarkan kita (I Tim 4:15-16).
Marilah dalam minggu yang baru ini, dengan rendah hati kita menerima didikan dan pengajaran firman Tuhan dan mau diubahkan untuk serupa dengan karakter seorang duta besar kerajaan sorga melalui kehidupan nyata sehari-hari. Saya percaya pada saat kebenaran ini diaplikasikan / diterapkan secara nyata, maka bukan hanya hidup kita mengalami perubahan, tetapi hidup orang lain juga akan diubahkan. Pada saat yang sama, kita menyatakan “iman percaya”, saat itu juga Anda berfungsi sebagai duta besar kerajaanNya. Tuhan Yesus memberkati.
Doa Bapa Kami
Matius 6 : 9 - 13
Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)
Tuhan Yesus mengajarkan doa ini kepada murid-muridNya dan juga kepada kita semua. Doa ini merupakan jawaban atas segala macam kebutuhan dalam hidup manusia. Doa Bapa Kami dalam Mat 6:9-13 mengandung 7 hal utama yang mewakili kebutuhan dasar manusia, yaitu:
1. Kebutuhan figur seorang ‘bapak’: “Bapa Kami…” (ayt.9) Yesus datang untuk membawa pemulihan hubungan antara manusia dengan Tuhan yang telah rusak karena dosa. Ia memperbaharui hubungan manusia dengan Tuhan seperti hubungan antara bapak dan anak. Yesus bahkan mengajarkan kita untuk memanggil Tuhan dengan sebutan yang sangat pribadi, intim dan sungguh luar biasa, yaitu “Bapa”.
Sebagaimana seorang anak intim dengan bapaknya, demikian juga hubungan kita dengan Bapa di sorga. Kita memiliki akses untuk berkomunikasi dengan Tuhan secara leluasa dan jaminan akan pemenuhan kebutuhan kita. Namun, iblis tidak suka dengan hal ini. Ia pun berusaha merusak figur bapak bahkan sejak usia dini (anak muda). Tetapi, kita masih memiliki pengharapan dalam Yesus karena Ia sendiri telah datang dan menyatakan diriNya sebagai “Bapa”. Tidak peduli bagaimana pun latar belakang kita, figur bapak di dunia ini memang tidak ada yang sempurna akan tetapi kita punya figur bapak surgawi yang sempurna. Seorang bapak punya kuasa untuk mengimpartasikan DNA dan karakter dalam diri anaknya. Yesus berkata bahwa Allah yang maha kuasa itu adalah “Bapa Kita” artinya kita membawa “DNA” surgawi dalam kehidupan kita. Karena itu kita patut berbangga karena kita adalah putera dan puteri Allah
2. Hadirat Tuhan: “Dikuduskanlah nama-Mu” (ayt.9) Ini adalah suatu ekspresi pujian / penyembahan. Pujian dan penyembahan adalah salah satu akses untuk kita bisa berada dalam hadiratNya. Manusia sebenarnya diciptakan untuk tinggal di dalam hadiratNya (itulah EDEN). Waktu kita tinggal di luar Tuhan, kita mati rohani. Kita tidak akan bertumbuh secara rohani dengan hanya membaca Alkitab, memuji dan menyembah hanya 1 minggu sekali pada waktu ke gereja. Sama halnya jika kita biasanya makan 3 kali sehari, dan sekarang hanya makan sekali dalam seminggu, kita akan kekurangan nutrisi dan mati lemas. Habitat kita adalah hadirat Tuhan dan
firman Tuhan adalah makanan kita. Ketika kita menyembah, hadirat Tuhan datang dan di dalam hadiratNya ada jawaban. Ketika kita tidak dapat menyelesaikan masalah dengan kekuatan kita, di dalam hadiratNYA ada jawaban dan ada jalan keluar, di dalam hadiratNya ada kekuatan, di dalam hadiratNya ada rasa aman, dan di dalam hadiratNya ada mujizat. Pujian adalah firman yang dinyanyikan. Pada saat kita memuji, kita membuat suatu pengakuan. Karena itu kita harus menyanyi dengan pengertian.
Ketika hadiratNya datang, Ia hadir dengan kuasa kerajaan, berkat kerajaan dan mujizat kerajaan di dalam kehidupan kita.
3. Prioritas Tuhan: “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu…” (ayt.10) Ini berbicara tentang prioritas kerajaan yang seharusnya menjadi prioritas dalam kehidupan kita. Prioritas kita adalah kerajaan Allah dan kebenaranNya (Mat 6: 33). Tragedi terbesar dalam hidup manusia yaitu ketika ia tidak tahu prioritas hidupnya. Tidak heran jika banyak manusia yang sibuk dan stres dalam kesehariannya karena berusaha memenuhi hal-hal yang sebenarnya bukanlah yang utama. Hal ini tentu saja membuat nama Tuhan tidak bisa dimuliakan. Namun, marilah kita memiliki prioritas yang benar untuk mengenal firman Tuhan agar kehendakNya terjadi dalam hidup kita sehingga nama Tuhan dipermuliakan.
4. Penyediaan Tuhan: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (ayt.11) Ayat ini berbicara mengenai penyediaan Tuhan atas segala kebutuhan kita (meyangkut apa yang kita makan, minum, pakai). Kita tidak perlu khawatir karena Allah sendiri telah berjanji memenuhi kebutuhan kita. Asalkan kita memiliki prioritas yang benar, maka segala sesuatu (termasuk kebutuhan di atas) akan Tuhan berikan.
5. Pengampunan Tuhan: “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (ayt.12)
Tuhan adalah Allah yang penuh kasih dan pengampunan. Ia sanggup mengampuni dosa-dosa kita asalkan kita mau bertobat dengan mengaku dan minta ampun. Karena itu kita juga harus mengampuni orang lain yang menyakiti hati kita. Kalau kita menyimpan kepahitan terhadap orang lain, kita sendiri yang rugi. Orang lain cuma bisa menyakiti kita satu kali; selanjutnya, kita hanya menyakiti diri kita sendiri dengan berulang-ulang mengingat apa yang orang lain lakukan dalam diri kita.
6. Kuasa atas Setan: “dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat” (ayt.13) Ketika kita melepaskan pengampunan, inilah yang terjadi; kita lepas dari yang jahat.
Kita terbebas dari kuasa setan yang membelenggu hidup kita lewat sakit hati dan kepahitan. Tuhan telah memberi kita kuasa untuk mengusir setan (Mark 16:17) termasuk segala pengaruh pemikiran buruk yang iblis tanamkan dalam pikiran dan hati kita. Musuh kita bukanlah teman kita, saudara kita, bukan pula bos kita. Musuh kita adalah roh-roh jahat dan penguasa-penguasa di udara (Ef 6:12). Banyak orang yang menjadi jahat setelah ia diperlakukan dengan jahat oleh orang lain. Secara tidak langsung, dia mengijinkan kejahatan masuk menguasai dan mengendalikan hidup kita. Karena itu, kita harus menang atas kejahatan.
7. Kemitraan dengan Tuhan: “Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.” (ayt.13) Kita diberi hak istimewa untuk bermitra dengan Tuhan. Kita adalah ‘duta besar kerajaan sorga’. Sebagai duta besar, kita mewakili negara yang mengutus kita. Puji nama Tuhan karena Ia telah berkenan memberikan kerajaan, kuasa dan kemuliaanNya kepada kita (II Tim 4:18; Luk 10:19 ; Yoh 17:22). Marilah kita mengembalikan segala kemuliaan bagi Allah.
Doa ini tidak hanya sekedar doa yang Yesus ajarkan pada murid-muridNya. Ini adalah doa yang penuh kuasa untuk menurunkan kerajaan sorga ke bumi. Ketika kerajaan itu turun, maka ada pengaruh surgawi terhadap kebutuhan material, hubungan dengan sesama dan kemenangan terhadap godaan dan kuasa setan. Inilah yang menjadi jawaban bagi setiap kebutuhan dasar kita sebagai manusia. Sebagai duta besar kerajaanNya, kita punya kuasa untuk menjawab segala kekhawatiran dan ketakutan atas hidup kita. Doa bapa kami ini sekaligus menjadi jaminan kuasa yang Tuhan berikan bagi kita untuk kita hidup dalam kemenangan dan senantiasa mempermuliakan nama Tuhan. Amin.
Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)
Tuhan Yesus mengajarkan doa ini kepada murid-muridNya dan juga kepada kita semua. Doa ini merupakan jawaban atas segala macam kebutuhan dalam hidup manusia. Doa Bapa Kami dalam Mat 6:9-13 mengandung 7 hal utama yang mewakili kebutuhan dasar manusia, yaitu:
1. Kebutuhan figur seorang ‘bapak’: “Bapa Kami…” (ayt.9) Yesus datang untuk membawa pemulihan hubungan antara manusia dengan Tuhan yang telah rusak karena dosa. Ia memperbaharui hubungan manusia dengan Tuhan seperti hubungan antara bapak dan anak. Yesus bahkan mengajarkan kita untuk memanggil Tuhan dengan sebutan yang sangat pribadi, intim dan sungguh luar biasa, yaitu “Bapa”.
Sebagaimana seorang anak intim dengan bapaknya, demikian juga hubungan kita dengan Bapa di sorga. Kita memiliki akses untuk berkomunikasi dengan Tuhan secara leluasa dan jaminan akan pemenuhan kebutuhan kita. Namun, iblis tidak suka dengan hal ini. Ia pun berusaha merusak figur bapak bahkan sejak usia dini (anak muda). Tetapi, kita masih memiliki pengharapan dalam Yesus karena Ia sendiri telah datang dan menyatakan diriNya sebagai “Bapa”. Tidak peduli bagaimana pun latar belakang kita, figur bapak di dunia ini memang tidak ada yang sempurna akan tetapi kita punya figur bapak surgawi yang sempurna. Seorang bapak punya kuasa untuk mengimpartasikan DNA dan karakter dalam diri anaknya. Yesus berkata bahwa Allah yang maha kuasa itu adalah “Bapa Kita” artinya kita membawa “DNA” surgawi dalam kehidupan kita. Karena itu kita patut berbangga karena kita adalah putera dan puteri Allah
2. Hadirat Tuhan: “Dikuduskanlah nama-Mu” (ayt.9) Ini adalah suatu ekspresi pujian / penyembahan. Pujian dan penyembahan adalah salah satu akses untuk kita bisa berada dalam hadiratNya. Manusia sebenarnya diciptakan untuk tinggal di dalam hadiratNya (itulah EDEN). Waktu kita tinggal di luar Tuhan, kita mati rohani. Kita tidak akan bertumbuh secara rohani dengan hanya membaca Alkitab, memuji dan menyembah hanya 1 minggu sekali pada waktu ke gereja. Sama halnya jika kita biasanya makan 3 kali sehari, dan sekarang hanya makan sekali dalam seminggu, kita akan kekurangan nutrisi dan mati lemas. Habitat kita adalah hadirat Tuhan dan
firman Tuhan adalah makanan kita. Ketika kita menyembah, hadirat Tuhan datang dan di dalam hadiratNya ada jawaban. Ketika kita tidak dapat menyelesaikan masalah dengan kekuatan kita, di dalam hadiratNYA ada jawaban dan ada jalan keluar, di dalam hadiratNya ada kekuatan, di dalam hadiratNya ada rasa aman, dan di dalam hadiratNya ada mujizat. Pujian adalah firman yang dinyanyikan. Pada saat kita memuji, kita membuat suatu pengakuan. Karena itu kita harus menyanyi dengan pengertian.
Ketika hadiratNya datang, Ia hadir dengan kuasa kerajaan, berkat kerajaan dan mujizat kerajaan di dalam kehidupan kita.
3. Prioritas Tuhan: “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu…” (ayt.10) Ini berbicara tentang prioritas kerajaan yang seharusnya menjadi prioritas dalam kehidupan kita. Prioritas kita adalah kerajaan Allah dan kebenaranNya (Mat 6: 33). Tragedi terbesar dalam hidup manusia yaitu ketika ia tidak tahu prioritas hidupnya. Tidak heran jika banyak manusia yang sibuk dan stres dalam kesehariannya karena berusaha memenuhi hal-hal yang sebenarnya bukanlah yang utama. Hal ini tentu saja membuat nama Tuhan tidak bisa dimuliakan. Namun, marilah kita memiliki prioritas yang benar untuk mengenal firman Tuhan agar kehendakNya terjadi dalam hidup kita sehingga nama Tuhan dipermuliakan.
4. Penyediaan Tuhan: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (ayt.11) Ayat ini berbicara mengenai penyediaan Tuhan atas segala kebutuhan kita (meyangkut apa yang kita makan, minum, pakai). Kita tidak perlu khawatir karena Allah sendiri telah berjanji memenuhi kebutuhan kita. Asalkan kita memiliki prioritas yang benar, maka segala sesuatu (termasuk kebutuhan di atas) akan Tuhan berikan.
5. Pengampunan Tuhan: “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (ayt.12)
Tuhan adalah Allah yang penuh kasih dan pengampunan. Ia sanggup mengampuni dosa-dosa kita asalkan kita mau bertobat dengan mengaku dan minta ampun. Karena itu kita juga harus mengampuni orang lain yang menyakiti hati kita. Kalau kita menyimpan kepahitan terhadap orang lain, kita sendiri yang rugi. Orang lain cuma bisa menyakiti kita satu kali; selanjutnya, kita hanya menyakiti diri kita sendiri dengan berulang-ulang mengingat apa yang orang lain lakukan dalam diri kita.
6. Kuasa atas Setan: “dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat” (ayt.13) Ketika kita melepaskan pengampunan, inilah yang terjadi; kita lepas dari yang jahat.
Kita terbebas dari kuasa setan yang membelenggu hidup kita lewat sakit hati dan kepahitan. Tuhan telah memberi kita kuasa untuk mengusir setan (Mark 16:17) termasuk segala pengaruh pemikiran buruk yang iblis tanamkan dalam pikiran dan hati kita. Musuh kita bukanlah teman kita, saudara kita, bukan pula bos kita. Musuh kita adalah roh-roh jahat dan penguasa-penguasa di udara (Ef 6:12). Banyak orang yang menjadi jahat setelah ia diperlakukan dengan jahat oleh orang lain. Secara tidak langsung, dia mengijinkan kejahatan masuk menguasai dan mengendalikan hidup kita. Karena itu, kita harus menang atas kejahatan.
7. Kemitraan dengan Tuhan: “Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.” (ayt.13) Kita diberi hak istimewa untuk bermitra dengan Tuhan. Kita adalah ‘duta besar kerajaan sorga’. Sebagai duta besar, kita mewakili negara yang mengutus kita. Puji nama Tuhan karena Ia telah berkenan memberikan kerajaan, kuasa dan kemuliaanNya kepada kita (II Tim 4:18; Luk 10:19 ; Yoh 17:22). Marilah kita mengembalikan segala kemuliaan bagi Allah.
Doa ini tidak hanya sekedar doa yang Yesus ajarkan pada murid-muridNya. Ini adalah doa yang penuh kuasa untuk menurunkan kerajaan sorga ke bumi. Ketika kerajaan itu turun, maka ada pengaruh surgawi terhadap kebutuhan material, hubungan dengan sesama dan kemenangan terhadap godaan dan kuasa setan. Inilah yang menjadi jawaban bagi setiap kebutuhan dasar kita sebagai manusia. Sebagai duta besar kerajaanNya, kita punya kuasa untuk menjawab segala kekhawatiran dan ketakutan atas hidup kita. Doa bapa kami ini sekaligus menjadi jaminan kuasa yang Tuhan berikan bagi kita untuk kita hidup dalam kemenangan dan senantiasa mempermuliakan nama Tuhan. Amin.
Jumat, 01 Desember 2006
Welcoming the Christmas Season
Menyambut “Hari” Natal
Tanpa terasa kita kembali berada di bulan Desember itu berarti sebentar lagi kita akan kembali merayakan natal bersama-sama. Rasa-rasanya masih belum hilang dari ingatan perayaan natal tahun lalu. Jujur saja hari-hari dalam hidup kita berlangsung begitu cepat. Anak-anak kita yang tadinya masih bayi tiba-tiba sudah besar, beberapa sudah jadi remaja sementara yang lain bahkan sudah hampir menikah. Mengalami semuanya ini seringkali secara tidak sadar kita berada dalam suatu bentuk kehidupan yang “bergulir” rutin. Berjalan dari satu hari ke hari yang berikut, minggu ke minggu yang berikut, bulan ke bulan yang berikut, tahun ke tahun yang berikut. Dan….sebentar lagi kita mengalami “natal yang berikutnya.” Keadaan ini bisa membuat kita terjebak untuk hanya sekedar “berada atau mengadakan” tanpa “mengalami” dan “mendalami” makna natal sesungguhnya.
Memang harus diakui sejujurnya, natal yang dirayakan tiap tanggal 25 Desember tidak datang dari Alkitab. Maksudnya Alkitab tidak menulis secara langsung tanggal kelahiran Yesus. Bahkan dari beberapa masukan tampaknya merayakan natal lebih terkesan “kafir” daripada rohani. Tetapi saya yakin apapun tanggapan orang terhadap natal, harus diakui bahwa Tuhan bisa “memakai” momen natal untuk menyatakan kasih, kuasa dan kemuliaannya. Bahkan negara tetangga Singapura yang mayoritas penduduknya beragama Budha memakai momen natal dengan sangat serius. Kalau mereka yang belum mengerti makna natal sesungguhnya ini bisa begitu serius, pertanyaannya bagaimana dengan kita.
Kita tahu bahwa bagi sebagian orang percaya (baca: kristen) natal identik dengan: pesta, baju baru, penampilan khusus, hura-hura, liburan, dan seterusnya; daftar ini bisa diperpanjang lagi. Bagaimana dengan kita? Menyambut natal sesungguhnya mengingatkan kita tentang pengharapan, penebusan, pemulihan, kasih, perubahan total, kemuliaan, dan seterusnya; daftar ini bisa ditambah sesuai dengan pengalaman masing-masing pribadi. Satu hal yang jelas dan paling penting “Mesias” yaitu “Raja di atas segala raja” dan “Tuhan di atas segala tuhan” datang di atas muka bumi ini. Itu berarti Dia berkenan datang dalam kehidupan kita secara pribadi.
Orang Majus sebagaimana ditulis dalam Matius 2:1,2 datang untuk memberikan persembahan dan penyembahan kepada Yesus. Yusuf dan Maria memberi hidup mereka untuk membawa Mesias kepada dunia. Elizabet, Simeon, dan para gembala menaikkan pujian dan penyembahan bagi Sang Raja. Saya percaya sikap-sikap yang seperti yang seharusnya ada dalam hidup kita. Mari kita merenungkan nilai-nilai ini lebih dalam lagi sementara kita berada dalam nuansa natal hari-hari ini. Bagaimana hubungan kita dengan Dia, adakah kehidupan kita “memuji dan menyembah” Dia senantiasa, dan yang terpenting apakah Yesus sungguh-sungguh menjadi Raja dalam hidup kita. Adakah raja-raja lain yang kita ijinkan bertahta dalam hidup kita? Renungkan baik-baik !!! KerajaanNya tidak dapat datang dan kehendakNya tidak akan jadi kalau Yesus belum menjadi Raja dalam seluruh aspek kehidupan kita. Welcome to Christmas season, Tuhan memberkati
Tanpa terasa kita kembali berada di bulan Desember itu berarti sebentar lagi kita akan kembali merayakan natal bersama-sama. Rasa-rasanya masih belum hilang dari ingatan perayaan natal tahun lalu. Jujur saja hari-hari dalam hidup kita berlangsung begitu cepat. Anak-anak kita yang tadinya masih bayi tiba-tiba sudah besar, beberapa sudah jadi remaja sementara yang lain bahkan sudah hampir menikah. Mengalami semuanya ini seringkali secara tidak sadar kita berada dalam suatu bentuk kehidupan yang “bergulir” rutin. Berjalan dari satu hari ke hari yang berikut, minggu ke minggu yang berikut, bulan ke bulan yang berikut, tahun ke tahun yang berikut. Dan….sebentar lagi kita mengalami “natal yang berikutnya.” Keadaan ini bisa membuat kita terjebak untuk hanya sekedar “berada atau mengadakan” tanpa “mengalami” dan “mendalami” makna natal sesungguhnya.
Memang harus diakui sejujurnya, natal yang dirayakan tiap tanggal 25 Desember tidak datang dari Alkitab. Maksudnya Alkitab tidak menulis secara langsung tanggal kelahiran Yesus. Bahkan dari beberapa masukan tampaknya merayakan natal lebih terkesan “kafir” daripada rohani. Tetapi saya yakin apapun tanggapan orang terhadap natal, harus diakui bahwa Tuhan bisa “memakai” momen natal untuk menyatakan kasih, kuasa dan kemuliaannya. Bahkan negara tetangga Singapura yang mayoritas penduduknya beragama Budha memakai momen natal dengan sangat serius. Kalau mereka yang belum mengerti makna natal sesungguhnya ini bisa begitu serius, pertanyaannya bagaimana dengan kita.
Kita tahu bahwa bagi sebagian orang percaya (baca: kristen) natal identik dengan: pesta, baju baru, penampilan khusus, hura-hura, liburan, dan seterusnya; daftar ini bisa diperpanjang lagi. Bagaimana dengan kita? Menyambut natal sesungguhnya mengingatkan kita tentang pengharapan, penebusan, pemulihan, kasih, perubahan total, kemuliaan, dan seterusnya; daftar ini bisa ditambah sesuai dengan pengalaman masing-masing pribadi. Satu hal yang jelas dan paling penting “Mesias” yaitu “Raja di atas segala raja” dan “Tuhan di atas segala tuhan” datang di atas muka bumi ini. Itu berarti Dia berkenan datang dalam kehidupan kita secara pribadi.
Orang Majus sebagaimana ditulis dalam Matius 2:1,2 datang untuk memberikan persembahan dan penyembahan kepada Yesus. Yusuf dan Maria memberi hidup mereka untuk membawa Mesias kepada dunia. Elizabet, Simeon, dan para gembala menaikkan pujian dan penyembahan bagi Sang Raja. Saya percaya sikap-sikap yang seperti yang seharusnya ada dalam hidup kita. Mari kita merenungkan nilai-nilai ini lebih dalam lagi sementara kita berada dalam nuansa natal hari-hari ini. Bagaimana hubungan kita dengan Dia, adakah kehidupan kita “memuji dan menyembah” Dia senantiasa, dan yang terpenting apakah Yesus sungguh-sungguh menjadi Raja dalam hidup kita. Adakah raja-raja lain yang kita ijinkan bertahta dalam hidup kita? Renungkan baik-baik !!! KerajaanNya tidak dapat datang dan kehendakNya tidak akan jadi kalau Yesus belum menjadi Raja dalam seluruh aspek kehidupan kita. Welcome to Christmas season, Tuhan memberkati
Perfect Trust
Percaya Sepenuhnya
Ada satu pertanyaan sederhana sekaligus penting dalam hidup kita. Khususnya pada masa-masa seperti saat ini, di mana terjadi begitu banyak pergumulan dan permasalahan dalam hidup ini. Pertanyaan itu adalah: “Dapatkah anda mempercayai Tuhan?” Saat di mana kita hari-hari ini sedang merayakan natal, pertanyaan di atas sekaligus merupakan refleksi bagi kita semua. Sebab natal berbicara tentang harapan, sukacita, rahmat, bahkan mujijat bagi kita semua. Dengan kata lain saat kita benar-benar percaya kepada Dia, maka perkara-perkara di atas pasti akan terjadi dalam kehidupan kita.
Salah satu pesan natal yang kuat seperti yang disampaikan dalam firman Tuhan adalah “jangan takut.” Dalam Injil Lukas 1:26-30, dimana Maria menerima salam dari malaikat Gabriel maka dia menjadi takut. Tetapi Gabriel yang menyampaikan pesan Tuhan berkata: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (ayat 30). Pesan yang sama datang kepada setiap kita yang memiliki kepercayaan secara total kepada Yesus, JANGAN TAKUT !!!
Anda mungkin berpikir “tidak semudah itu” karena apa yang sedang dihadapi begitu berat. Ayat 37 adalah merupakan jawaban, Alkitab berkata demikian: “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Buat Maria apa yang diperintahkan Allah kepada dirinya adalah sesuatu yang mustahil. Bahkan kalau hari ini kita sedang berhadapan dengan kemustahilan, masih ada harapan. Ingat natal berbicara tentang mujijat ! Bagi kita memang mustahil tapi bagi Dia tidak ada yang mustahil. Atau supaya bersifat lebih pribadi kita bisa berkata: bersama dengan Tuhan tidak ada yang mustahil” Haleluya !!!
Bukan hanya Maria yang mengalami rasa takut, ternyata Yusuf pun mengalami yang sama saat malaikat datang kepada dia. Injil Matius 1:18-20 mencatat bagaimana Yusuf yang begitu terkejut mendengar kehamilan Maria memutuskan untuk menceraikannya secara diam-diam. Yusuf merasa dia tidak perlu menanggung apa yang seharusnya tidak perlu dia tanggung. Yusuf punya masalah yang berat disini, tapi sekali lagi malaikat berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu,…” Alkitab berkata Yusuf “TAAT” mengerjakan apa yang Tuhan minta dia lakukan (ayat 24). Kita tahu bagaimana kemudian Yusuf punya peran dalam sejarah kekristenan. Kehidupannya memberi warna dalam karya keselamatan kekal yang merupakan kehendak Bapa di sorga.
Keduanya baik Yusuf maupun Maria, saya melihat mereka memiliki percaya total kepada Tuhan. Percaya yang mereka miliki bukan separo-separo bahkan tidak juga 99,9% tetapi percaya 100%. Minggu yang baru ini, menjelang tahun yang baru mari kita baharui percaya kita kepada Dia. Tidak perduli bagaimanapun keadaan kita, baik atau buruk, ada masalah atau tidak, berhadapan dengan kemustahilan atau tidak, tidak jadi masalah. Asalkan kita punya keyakinan penuh atas Dia. Yesus tidur di buritan perahu saat badai datang, mengapa? Karena Dia percaya sepenuhnya akan Bapa-Nya. Bagaimana dengan kita ?
Ada satu pertanyaan sederhana sekaligus penting dalam hidup kita. Khususnya pada masa-masa seperti saat ini, di mana terjadi begitu banyak pergumulan dan permasalahan dalam hidup ini. Pertanyaan itu adalah: “Dapatkah anda mempercayai Tuhan?” Saat di mana kita hari-hari ini sedang merayakan natal, pertanyaan di atas sekaligus merupakan refleksi bagi kita semua. Sebab natal berbicara tentang harapan, sukacita, rahmat, bahkan mujijat bagi kita semua. Dengan kata lain saat kita benar-benar percaya kepada Dia, maka perkara-perkara di atas pasti akan terjadi dalam kehidupan kita.
Salah satu pesan natal yang kuat seperti yang disampaikan dalam firman Tuhan adalah “jangan takut.” Dalam Injil Lukas 1:26-30, dimana Maria menerima salam dari malaikat Gabriel maka dia menjadi takut. Tetapi Gabriel yang menyampaikan pesan Tuhan berkata: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (ayat 30). Pesan yang sama datang kepada setiap kita yang memiliki kepercayaan secara total kepada Yesus, JANGAN TAKUT !!!
Anda mungkin berpikir “tidak semudah itu” karena apa yang sedang dihadapi begitu berat. Ayat 37 adalah merupakan jawaban, Alkitab berkata demikian: “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Buat Maria apa yang diperintahkan Allah kepada dirinya adalah sesuatu yang mustahil. Bahkan kalau hari ini kita sedang berhadapan dengan kemustahilan, masih ada harapan. Ingat natal berbicara tentang mujijat ! Bagi kita memang mustahil tapi bagi Dia tidak ada yang mustahil. Atau supaya bersifat lebih pribadi kita bisa berkata: bersama dengan Tuhan tidak ada yang mustahil” Haleluya !!!
Bukan hanya Maria yang mengalami rasa takut, ternyata Yusuf pun mengalami yang sama saat malaikat datang kepada dia. Injil Matius 1:18-20 mencatat bagaimana Yusuf yang begitu terkejut mendengar kehamilan Maria memutuskan untuk menceraikannya secara diam-diam. Yusuf merasa dia tidak perlu menanggung apa yang seharusnya tidak perlu dia tanggung. Yusuf punya masalah yang berat disini, tapi sekali lagi malaikat berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu,…” Alkitab berkata Yusuf “TAAT” mengerjakan apa yang Tuhan minta dia lakukan (ayat 24). Kita tahu bagaimana kemudian Yusuf punya peran dalam sejarah kekristenan. Kehidupannya memberi warna dalam karya keselamatan kekal yang merupakan kehendak Bapa di sorga.
Keduanya baik Yusuf maupun Maria, saya melihat mereka memiliki percaya total kepada Tuhan. Percaya yang mereka miliki bukan separo-separo bahkan tidak juga 99,9% tetapi percaya 100%. Minggu yang baru ini, menjelang tahun yang baru mari kita baharui percaya kita kepada Dia. Tidak perduli bagaimanapun keadaan kita, baik atau buruk, ada masalah atau tidak, berhadapan dengan kemustahilan atau tidak, tidak jadi masalah. Asalkan kita punya keyakinan penuh atas Dia. Yesus tidur di buritan perahu saat badai datang, mengapa? Karena Dia percaya sepenuhnya akan Bapa-Nya. Bagaimana dengan kita ?
Minggu, 01 Oktober 2006
Sukkot
Saat ini kita berada di tengah-tengah masa perayaan Sukkot (hari raya pondok daun), minggu-minggu sebelumnya kita sama-sama merayakan Rosh Hashanah (hari raya penipuan sangkakala) dan Yom Kippur (hari raya pendamaian). Ketiga perayaan ini punya hubungan yang sangat erat dan saling berhubungan dalam kalender nubuatan Allah. Rosh Hashanah berbicara tentang kedatangan mempelai pria Yesus untuk menjemput mempelai wanita yaitu gerejaNya. Yom Kippur adalah kedatangan Yesus di bukit zaitun di mana Dia akan menghancurkan semua yang mengepung dan mencoba membinasakan Yerusalem saat itu. Sukkot berbicara tentang millennial kingdom, yaitu kerajaan 1000 tahun menggenapi nubuat: “segala bangsa akan bertelut dan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan.”
Saya percaya bahwa hari-hari ini kita sedang menuju kearah penggenapan semuanya itu. Masalahnya ada banyak orang percaya yang punya mentalitas melarikan diri (escaping mentality), karena menyerah terhadap pergumulan yang diijinkan Tuhan terjadi dalam hidupnya. Kita harus melihat semuanya itu justru sebagai sumber pengharapan dalam kehidupan kita. Sukkot dirayakan sebenarnya untuk mengingat bagaimana Tuhan memelihara orang Israel selama mereka berada di padang gurun 40 tahun lamanya (Imamat 23:43). Mereka mengingat bagaimana tiang awan dan tiang api (Bilangan 14:14) menuntun mereka dalam perjalanan mereka di sana. Mereka juga mengingat bagaimana Tuhan menyediakan air yang keluar dari batu karang (gambaran Tuhan Yesus) di Meriba (Keluaran 17:1-7).
Peringatan ini setiap tahun dilaksanakan setiap bulan Tishri (bulan ke 7), mulai dari hari ke 15 sampai dengan hari ke 21/22. Dirayakan dengan sangat meriah dan setiap harinya sangkakala ditiup dengan sukacita. Sekali lagi semuanya ini mengingatkan kita bagaimana pemeliharaan Tuhan yang dasyat dan tidak berkesudahan dalam kehidupan kita. Lewat pengampunan oleh anugerahNya hidup kita diubahkan. Bukan hanya itu Roh Kudus juga diberikan untuk ada dalam hidup kita sehingga bukan hanya kita yang diubahkan tetapi setiap orang yang kita jumpai juga akan diubahkan. Yesus sendiri menubuatkan akan hal ini pada puncak perayaan Sukkot.
Dalam Yoh 7:37-39 Alkitab berkata: “Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.”
Sekarang kita mengalami semuanya itu, sesuatu yang hanya diimpikan oleh mereka yang hidup dalam era perjanjian lama. Sesuatu yang hanya sebagian orang tertentu yang terpilih yang dapat memilikinya. Tidak heran Petrus mengatakan bahwa kita adalah “generasi yang terpilih” (I Petrus 2:9). Hari ini mari kita melihat diri kita dari sudut pandang yang berbeda sembari mengingat apa yang Tuhan lakukan lewat perayaan pondok daun ini. Bayangkan Roh Raja di atas segala raja itu ada di dalam kita, rasa-rasanya tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa DNA rohani kita secara total berubah dan…itu juga akan mengubah DNA ‘jiwani dan jasmani’ kita. ”Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
Saya percaya bahwa hari-hari ini kita sedang menuju kearah penggenapan semuanya itu. Masalahnya ada banyak orang percaya yang punya mentalitas melarikan diri (escaping mentality), karena menyerah terhadap pergumulan yang diijinkan Tuhan terjadi dalam hidupnya. Kita harus melihat semuanya itu justru sebagai sumber pengharapan dalam kehidupan kita. Sukkot dirayakan sebenarnya untuk mengingat bagaimana Tuhan memelihara orang Israel selama mereka berada di padang gurun 40 tahun lamanya (Imamat 23:43). Mereka mengingat bagaimana tiang awan dan tiang api (Bilangan 14:14) menuntun mereka dalam perjalanan mereka di sana. Mereka juga mengingat bagaimana Tuhan menyediakan air yang keluar dari batu karang (gambaran Tuhan Yesus) di Meriba (Keluaran 17:1-7).
Peringatan ini setiap tahun dilaksanakan setiap bulan Tishri (bulan ke 7), mulai dari hari ke 15 sampai dengan hari ke 21/22. Dirayakan dengan sangat meriah dan setiap harinya sangkakala ditiup dengan sukacita. Sekali lagi semuanya ini mengingatkan kita bagaimana pemeliharaan Tuhan yang dasyat dan tidak berkesudahan dalam kehidupan kita. Lewat pengampunan oleh anugerahNya hidup kita diubahkan. Bukan hanya itu Roh Kudus juga diberikan untuk ada dalam hidup kita sehingga bukan hanya kita yang diubahkan tetapi setiap orang yang kita jumpai juga akan diubahkan. Yesus sendiri menubuatkan akan hal ini pada puncak perayaan Sukkot.
Dalam Yoh 7:37-39 Alkitab berkata: “Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.”
Sekarang kita mengalami semuanya itu, sesuatu yang hanya diimpikan oleh mereka yang hidup dalam era perjanjian lama. Sesuatu yang hanya sebagian orang tertentu yang terpilih yang dapat memilikinya. Tidak heran Petrus mengatakan bahwa kita adalah “generasi yang terpilih” (I Petrus 2:9). Hari ini mari kita melihat diri kita dari sudut pandang yang berbeda sembari mengingat apa yang Tuhan lakukan lewat perayaan pondok daun ini. Bayangkan Roh Raja di atas segala raja itu ada di dalam kita, rasa-rasanya tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa DNA rohani kita secara total berubah dan…itu juga akan mengubah DNA ‘jiwani dan jasmani’ kita. ”Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
Jumat, 01 September 2006
Yom Kippur
Dalam kitab Imamat 23:26-28 ditulis firman Tuhan: “Tuhan berfirman kepada Musa: “Akan tetapi pada tanggal sepuluh bulan yang ketujuh itu ada hari Pendamaian; kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan harus merendahkan diri dengan berpuasa dan mempersembahkan kurban api-apian kepada TUHAN. Pada hari itu janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah hari Pendamaian untuk mengadakan pendamaian bagimu di hadapan TUHAN, Allahmu.”
Beberapa waktu yang lalu kita merayakan Rosh Hashanah, yang merupakan tahun baru orang Yahudi sekaligus merupakan waktu introspeksi diri secara mendalam. Hari ini kita merayakan Yom Kippur, yang merupakan hari pendamaian. Tentu saja bagi kita yang percaya kepada korban Kristus, pendamaian dikerjakan lewat korbannya di atas Kalvari. Tetapi bagi orang Yahudi Yom Kippur berarti mereka harus memikirkan fakta dosa dan dosa memisahkan mereka dari Allah.
Kata pendamaian itu berarti melingkupi, dari bahasa Ibrani yang sama yang digunakan untuk menggambarkan tindakan Nuh ketika ia melapisi bahtera dengan ter, baik di sebelah dalam maupun di sebelah luarnya. Seperti Nuh dibebaskan dari “air bah penghakiman,” demikian juga “Hari Pendamaian” menjadi agen yang menyelamatkan dan membungkus kita dari dosa-dosa kita. Imamat 16:15,16 mengatakan: “Lalu ia harus menyembelih domba jantan yang akan menjadi kurban penghapus dosa bagi bangsa itu dan membawa darahnya masuk ke belakang tabir, kemudian haruslah diperbuatnya dengan darah lembu jantan, yakni ia harus memercikannya ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu. Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka.
Ada dua kambing yang digunakan sebagai korban, ‘azalel’ kambing penyebab kesalahan dan kambing yang dibuang untuk membawa dosa-dosa umat menjauh. Kedua kambing itu menjadi korban bagi dosa-dosa umat. Sama seperti korban binatang tersebut, yang menutupi (pengampunan) dosa Yesus melakukannya juga bagi kita. Hanya kalau darah binatang tersebut menutupi dosa, maka Darah Yesus menghapuskan segala dosa kita (Ibrani 9:12).
Pada hari Yom Kippur juga Imam Besar akan masuk ke dalam ruang Maha Kudus dengan membawa darah korban bagi pengampunan dosa. Yesus yang adalah Imam Besar kita melakukan yang sama, Dia masuk ke ruang Maha Kudus menjadi perantara bagi kita dengan membawa DarahNya sendiri (Ibrani 9:11-14, 24, 28). Hari ini untuk kesekian kalinya kita merenungkan makna korban Kristus bagi kita dan pertobatan sejati dari pihak kita. Pertobatan lewat percaya dan mengaku akan Yesus memang kita lakukan satu kali, tetapi dalam perjalanan hidup sebagai orang percaya kita harus memiliki sikap bertobat karena tidak ada seorangpun yang sempurna. Mari hari-hari mendatang ini kita lebih lagi memeriksa dengan seksama hidup kita, apakah kita senantiasa berkenan kepadanya.
Beberapa waktu yang lalu kita merayakan Rosh Hashanah, yang merupakan tahun baru orang Yahudi sekaligus merupakan waktu introspeksi diri secara mendalam. Hari ini kita merayakan Yom Kippur, yang merupakan hari pendamaian. Tentu saja bagi kita yang percaya kepada korban Kristus, pendamaian dikerjakan lewat korbannya di atas Kalvari. Tetapi bagi orang Yahudi Yom Kippur berarti mereka harus memikirkan fakta dosa dan dosa memisahkan mereka dari Allah.
Kata pendamaian itu berarti melingkupi, dari bahasa Ibrani yang sama yang digunakan untuk menggambarkan tindakan Nuh ketika ia melapisi bahtera dengan ter, baik di sebelah dalam maupun di sebelah luarnya. Seperti Nuh dibebaskan dari “air bah penghakiman,” demikian juga “Hari Pendamaian” menjadi agen yang menyelamatkan dan membungkus kita dari dosa-dosa kita. Imamat 16:15,16 mengatakan: “Lalu ia harus menyembelih domba jantan yang akan menjadi kurban penghapus dosa bagi bangsa itu dan membawa darahnya masuk ke belakang tabir, kemudian haruslah diperbuatnya dengan darah lembu jantan, yakni ia harus memercikannya ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu. Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka.
Ada dua kambing yang digunakan sebagai korban, ‘azalel’ kambing penyebab kesalahan dan kambing yang dibuang untuk membawa dosa-dosa umat menjauh. Kedua kambing itu menjadi korban bagi dosa-dosa umat. Sama seperti korban binatang tersebut, yang menutupi (pengampunan) dosa Yesus melakukannya juga bagi kita. Hanya kalau darah binatang tersebut menutupi dosa, maka Darah Yesus menghapuskan segala dosa kita (Ibrani 9:12).
Pada hari Yom Kippur juga Imam Besar akan masuk ke dalam ruang Maha Kudus dengan membawa darah korban bagi pengampunan dosa. Yesus yang adalah Imam Besar kita melakukan yang sama, Dia masuk ke ruang Maha Kudus menjadi perantara bagi kita dengan membawa DarahNya sendiri (Ibrani 9:11-14, 24, 28). Hari ini untuk kesekian kalinya kita merenungkan makna korban Kristus bagi kita dan pertobatan sejati dari pihak kita. Pertobatan lewat percaya dan mengaku akan Yesus memang kita lakukan satu kali, tetapi dalam perjalanan hidup sebagai orang percaya kita harus memiliki sikap bertobat karena tidak ada seorangpun yang sempurna. Mari hari-hari mendatang ini kita lebih lagi memeriksa dengan seksama hidup kita, apakah kita senantiasa berkenan kepadanya.
Langganan:
Postingan (Atom)